GOTO Makin Dekat ke Profitabilitas: GTV Naik 66%, EBITDA Positif
Kinerja perusahaan yang semakin kuat ditandai oleh lonjakan gross transaction value (GTV) inti sebesar 66% secara tahunan (yoy) pada kuartal IV-2024, serta kenaikan 58% selama setahun penuh. Tak hanya itu, pendapatan bersih GOTO juga melonjak 93% yoy hingga mencapai Rp 14,8 triliun, menjadi salah satu faktor utama yang mendorong perbaikan kondisi keuangan perusahaan.
Dengan pencapaian ini, GOTO berhasil memangkas rugi bersih secara signifikan. Pada 2023, rugi bersih GOTO mencapai Rp 87,3 triliun, namun pada 2024, angka tersebut berkurang drastis menjadi Rp 3,1 triliun. Pencapaian ini menunjukkan keberhasilan strategi efisiensi dan peningkatan pendapatan di berbagai lini bisnis.
Performa positif GOTO juga tercermin dalam EBITDA yang disesuaikan, yang mencatatkan angka positif sebesar Rp 386 miliar. Analis dari Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Christopher Rusli, menilai bahwa pertumbuhan GOTO ditopang oleh segmen bisnis utama yang semakin solid. Segmen teknologi keuangan misalnya, berhasil mencetak EBITDA positif yang disesuaikan sebesar Rp 14 miliar pada kuartal IV-2024. Keberhasilan ini didukung oleh peningkatan buku pinjaman serta pengelolaan biaya yang lebih disiplin.
Selain itu, segmen on-demand service (ODS) juga menunjukkan kinerja positif dengan kenaikan GTV sebesar 13% yoy menjadi Rp 63 triliun pada 2024. Pertumbuhan ini didorong oleh optimalisasi insentif, ekspansi layanan GoFood Express, serta lonjakan pendapatan iklan yang mencapai 92% yoy.
Sementara itu, dari sektor e-commerce, GOTO memperoleh tambahan pemasukan dari biaya layanan Tokopedia yang mencapai Rp 622 miliar. Hal ini semakin memperkuat struktur pendapatan perusahaan dan mempercepat upaya menuju profitabilitas.
Dari sisi target ke depan, manajemen GOTO optimistis bisa mencapai target kinerja 2025, dengan EBITDA yang disesuaikan diproyeksikan berada di kisaran Rp 1,4 hingga Rp 1,6 triliun. Namun, pencapaian ini masih bergantung pada kinerja semester pertama yang dipengaruhi faktor musiman.
Tak hanya itu, GOTO juga berencana memperluas portofolio bisnis di sektor fintech dengan menargetkan buku pinjaman hingga Rp 8 triliun. Meski demikian, terkait isu merger dan akuisisi (M&A) serta bonus hari raya, pihak manajemen masih belum memberikan detail lebih lanjut.
Di sisi lain, Mirae Asset Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli (buy) untuk saham GOTO. Target harga saham GOTO juga mengalami kenaikan menjadi Rp 100 per lembar. Valuasi ini didasarkan pada metodologi sum of the parts (SOTP), yang mempertimbangkan prospek bisnis ODS dan fintech dengan proyeksi EV/pendapatan 2025 dari perusahaan sejenis.
Dalam analisisnya, Mirae Asset Sekuritas menyatakan bahwa valuasi e-commerce GOTO mengacu pada pendapatan layanan Tokopedia, sementara kepemilikan saham di Bank Jago (ARTO) dinilai berdasarkan investasi awal GOTO. Dengan berbagai faktor tersebut, target harga saham GOTO ditetapkan pada Rp 100 per lembar.
Dengan kinerja yang terus membaik dan strategi bisnis yang semakin matang, GOTO semakin dekat untuk mencapai profitabilitas penuh. Jika tren positif ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin GOTO akan menjadi salah satu perusahaan teknologi dengan pertumbuhan paling solid di Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.